Mendidik, Memberikan Tauladan yang Baik
Oleh : A. Solahuddin
“Mendidik itu memberikan contoh yang baik terhadap peserta didik, bukan sekedar mentransformasi ilmu pengetahuan”. Ungkap Kiyai Hasbullah beberapa waktu lalu saat saya mengikuti dzikir, ratibul hadad yang rutin diselenggarakan setiap minggu malam di pesantren Riyadhul Awamil, Banten.
Abah Hasbu, begitu panggilan akrab KH. Hasbullah, adalah salah seorang kiai yang mengembangkan nilai-nilai tasawuf di Banten, beliau penganut thoriqot Al-baqiyatu sholihah, tentunya ia juga merupakan kiai pengamal ahlussunah wal jama’ah.
Cara mendidiknya luar biasa, mengasuh, merawat, mencerdaskan santri tidak hanya cerdas secara kognisi melainkan juga cerdas secara spiritual.
Beliau sering berpesan kepada santrinya bahwa akhlak merupan ihwal yang paling penting dimiliki oleh setiap orang, apalagi kalangan terdidik. Karena akhlak kedudukannya diatas ilmu pengetahuan. Jika suatu bangsa mengalami degradasi moral, itu merupakan tanda-tanda kehancuran.
Kiai Hasbullah bukan sekedar guru besar bagi santrinya, tapi juga bagi masyarakat di berbagai daerah, nasihat-nasihatnya selalu dibutuhkan, perilakunya menjadi panutan masyarakat sekitar, bahkan di tauladani tiap orang di berbagai daerah — yang kerap berkonsultasi spiritual kepada kiai sederhana itu.
Memang, Abah Hasbu bukan kiai parlente, tapi konsepsinya mengenai berbagai aspek kehidupan, tidaklah kalah oleh para intelektual dan cendikiawan moderen. Ia peka terhadap kondisi kekinian, juga terhadap perkembangan sosial bangsa Indonesia. Sikapnya yang "tawadhu" dan sederhana, mencerminkan kebijaksanaannya dalam mendidik.
Liberalisasi Pendididikan: Menggiring sesuatu yang Formal Menjadi Formalitas.
Cerita kiai Hasbu di atas, merupakan salah satu contoh pendidikan non formal dalam pesantren salafi, yang tidak ada aturan formalnya, standar kompetensi dan kompetensi dasarnya jelas tak tertulis. Tetapi sumbangsih pemupukan moral dan spiritual dunia pesantren yang tidak terlegitimasi itu patut diperhitungkan oleh bangsa kita.
Santri yang khusyuk belajar di dunia pesantren, teruji kualitas dan pengamalan spiritualnya. Ketika berbaur ke masyarakat, jebolan pesantren yang tak berlegalitas itu ternyata mampu memberikan transformasi sosial.
Mengenai dunia pendidikan formal, menjadi kompleks ketika kita dihadapkan pada realitas sosial yang saat ini terjadi. Tidak sedikit dari praktisi pendidikan yang mengkomoditaskannya, pendidikan dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan materi yang bersifat pribadi, tujuan-tujuan individu tersebut misalnya memperkaya diri dan sebagainya.
Komersialisasi pendidikan kerap terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan formal.
Secara umum, realitas peserta didik dan kondisi sosial masyarakat menjadi barometer keberhasilan pendidikan. Berhasil atau tidaknya pendidikan bagi bangsa, dilihat dari aspek moralitas.
Boleh jadi kecerdasan kognisi telah berkembang seiring dengan berkembangnya jaman melalui modernisasi. Tetapi, dewasa ini persoalan moralitas, kalau boleh diistilahkan, telah mendapat "raport merah".
Degradasi moral spiritual telah dipertontonkan oleh peserta didik, bahkan kalangan terdidik kerap melakukan tindakan paradoks, perilaku amoral yang tidak mencerminkan sebagai kalangan terdidik.
Kondisi tersebut, akhirnya dijadikan dasar konklusi bahwa tujuan pendidikan yang disebutkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, masih jauh dari harapan.
Sekolah, terkadang hanya diorientasikan untuk mendapat ijazah formal agar mudah mendapat kerja. Sehingga dunia pendidikan hanya menjadi formalitas yang tanpa nilai, jauh dari tujuan substansi.
Bangsa Indonesia memang harus terus berbenah, pasalnya, pertumbuhan pendidikan di Indonesia belum signifikan, masih banyak di berbagai daerah yang belum menikmati fasilitas pendidikan. Bahkan, masih banyak yang putus sekolah, tidak melanjutkan sekolah sesuai dengan standarisasi yang ditargetkan pemerintah karena masalah biaya dan keterbatasan akses.
Kita memang harus berbenah, Pembenahan itu dimulai dengan perlawanan terhadap liberalisasi pendidikan yang telah mengkomoditaskannya sehingga kabur dari tujuan substantif.
Sementara, menurut saya, kalangan pesantren lah yang melakoni pendidikan secara substansial. Yang pada praktiknya memanusiakan manusia, mendidik dengan memberikan tauladan yang baik bagi peserta didik.
Mendidik dengan hati, tidak akan menjadikan pendidikan sekedar formalitas yang tanpa nilai. Wassalam.
*May 2014
Komentar
Posting Komentar