Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Pilih Alquran atau Pancasila?

Pertanyaan TWK dalam rangka alih status KPK itu menjadi polemik dalam dinamika kebangsaan kita akhir-akhir ini. Banyak respon negatif dari tokoh terkemuka terhadap pembuat soal yang seolah membenturkan alquran dengan pancasila sebagai dasar negara. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra misalnya, ia menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melecehkan agama. Menurutnya, Alquran dan Pancasila tidak bisa dipertentangkan. Sebab, keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Dengan demikian, kata dia, alquran dan pancasila tidak bisa dihadapkan menjadi suatu pilihan.  Alquran sebagai kitab suci umat Islam tentunya telah memberikan panduan yang amat lengkap sebagai petunjuk menjalankan berbagai macam nilai, baik ibadah, muamalah maupun tata kelola kenegaraan.  Pesan yang terkandung dalam alquran justeru menginspirasi lahirnya berbagai pemikiran kenegaraan yang menjadi fondasi b...

TETAP OPTIMIS DI TENGAH LESUNYA EKONOMI (WFH)

“Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri”, ungkap Roosevelt, di hari pelantikannya sebagai presiden Amerika pada 4 Maret 1933 silam. Roosevelt menebarkan optimisme bisa bangkit dari depresi ekonomi yang mulai terjadi tahun 1929 hingga masa sebelum perang dunia II. Ekonom dan pelaku sejarah menyebut depresi tersebut sebagai kejatuhan ekonomi terbesar dan terpanjang dalam sejarah era industri. Mengutip dari berbagai rilis media sosial, banyak yang menganggap depresi yang terjadi sebagai bencana ekonomi paling dahsyat pada abad ke-20. Wabah pandemi covid 19 yang telah menyebar di berbagai belahan dunia, menebar ketakutan global akan terjadinya  resesi ekonomi. Bahkan, Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan situasinya bakal lebih buruk dari depresi besar (Great Depression) yang terjadi pada 1930-an itu. The Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi Negara-negara maju dan berkembang yang tergabung dalam G20 akan mengalami resesi pada 2020. Me...

PANDEMI SENGAJA DICIPTAKAN TUHAN SEBAGAI COMMON ENEMY?

Dimana ada bencana, disitu ada ratapan. Begitu kiranya, sejak pandemi covid 19 merayap ke bumi, dunia hampir porak-poranda dibuat gagap mengatasinya, terlebih bagi negara-negara berkembang. Segala rekayasa sistem yang dibangun belum cukup efektif membentengi dampak pandemi yang sudah sama-sama kita rasakan sekarang.  Kabarnya pandemi virus terus bermutasi memperburuk gelombang covid 19, para ilmuan menyebutkan mutasi covid menjadi varian Delta lebih cepat menular, faktanya sekarang kita dikejutkan oleh data-data korban yang memang gak ada habis-habisnya.  Bencana global ini sulit diterawang kapan usai, walaupun para ahli dengan sejumlah lampiran kajian teori ilmiahnya sudah banyak yang coba prediksi, tapi siapa kuasa membendung sesuatu--kalau boleh saya katakan-- yang datang dari "langit", kita hanya bisa berupaya sekuat tenaga melakukan serangkaian ikhtiar sembari mengetuk pintu langit merapal doa supaya terhindar dan lekas terbebas dari "musuh tak terlihat" bernam...