Pilih Alquran atau Pancasila?
Pertanyaan TWK dalam rangka alih status KPK itu menjadi polemik dalam dinamika kebangsaan kita akhir-akhir ini. Banyak respon negatif dari tokoh terkemuka terhadap pembuat soal yang seolah membenturkan alquran dengan pancasila sebagai dasar negara.
Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra misalnya, ia menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melecehkan agama. Menurutnya, Alquran dan Pancasila tidak bisa dipertentangkan. Sebab, keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Dengan demikian, kata dia, alquran dan pancasila tidak bisa dihadapkan menjadi suatu pilihan.
Alquran sebagai kitab suci umat Islam tentunya telah memberikan panduan yang amat lengkap sebagai petunjuk menjalankan berbagai macam nilai, baik ibadah, muamalah maupun tata kelola kenegaraan. Pesan yang terkandung dalam alquran justeru menginspirasi lahirnya berbagai pemikiran kenegaraan yang menjadi fondasi bernegara termasuk pancasila yang menjadi falsafah ideologi bangsa.
Alquran menjadi inspirasi pancasila sebagai falsafah ideologi bangsa dipertegas juga oleh Gus Hayid, pengurus Lembaga Dakwah Nadhlatul Ulama PBNU menuturkan bahwa pancasila itu sangat selaras dengan alquran, nilai spiritualitas alquran itu masuk ke dalam nilai-nilai pancasila.
Dengan kata lain, mensejajarkan alquran dengan pancasila saja enggak apple to apple, apalagi mempertentangkannya. Sebab dalam perumusan pancasila melalui sidang BPUPKI maupun PPKI, anggota yang terlibat didalamnya bukan sembarang orang. Salah satu yang berkontribusi dari tim sembilan perumus pancasila adalah KH. Wahid Hasyim, tokoh NU, pastinya menempatkan kandungan nilai alquran sebagai kaidah utama dalam proses ijtihad merumuskan pancasila.
Tanpa mengkooptasi pendapat lain, saya mempersilahkan siapapun yang memilih jawaban 'pancasila' dari pertanyaan nyeleneh bahkan mungkin pertanyaan jebakan itu, selagi dalam koridor atau konteks negara.
Sudahkah Kita Pancasila?
Hikmah dari polemik tersebut diatas, mengajak saya merenungi kembali pancasila, dalam istilah yang disebut As'ad Said Ali, sebagai jalan kemaslahatan berbangsa.
Penting kiranya kita mengupgrade kembali nilai-nilai pancasila sebagai falsafah bangsa, menggali secara terus menerus khazanah yang terkandung didalamnya. Mengurai problem-problem kebangsaan tidak hanya yang merupakan warisan masa lalu, tetapi juga tantangan yang khas kekinian agar kontekstualisasi pancasila sebagai "ideologi terbuka" dapat terejawantah menginspirasi pikiran maupun tindakan.
Ibarat kompas, pancasila menjadi penunjuk arah mau kemana bangsa ini berlabuh. Hal itu tentunya harus diaktualisasikan dalam serangkaian tindakan yang nyata.
Aktualisasi nilai pancasila dewasa ini tentu harus dimulai dari kebijakan yang pro aktif terhadap persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan, elit bangsa sebagai agen strategis dalam menatakelola negara mesti mempunyai komitmen keadilan terhadap penuntasan kesenjangan sosial, kemanusiaan dan segala hal yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila, tidak malah sebaliknya, pancasila ditarik-tarik pada kepentingan politik golongan tertentu yang justeru mendistorsi nilai yang terkandung didalamnya.
Distorsi pancasila semisal korupsi, kolusi, nepotisme oleh oknum elit kekuasaan jelas mengimplikasikan adanya distrust masyarakat kepada pemerintah. Bukankah liberalisasi politik, ekonomi dan budaya di Indonesia juga bukan konstruk yang dimaksud dalam pancasila? Saat masyarakat tidak percaya pada pemerintah, hal itu tentu dimanfaatkan oleh kelompok yang 'anti pancasila' dalam mempengaruhi masyarakat agar ikut "melaknat" pancasila sebagai produk yang di anggapnya thogut.
Selanjutnya, sebagai warga bangsa, kita mesti bersama-sama menekankan pentingnya pengamalan pancasila dimulai dari masing individu. Sikap apriori serta apatisme terhadap kondisi sosial kebangsaan menjauhkan kita terhadap makna persatuan Indonesia. Sumbangsih pemikiran dan tindakan sangat penting dilakukan oleh kita sebagai masyarakat, sebab dari pemikiranlah konstruksi negara berasaskan pancasila lahir, dari pemikiran pula keberlangsungan bangsa dapat berjalan ideal.
Untuk itu, proses dialektika pemikiran melalui silang pendapat jangan dimaknai sebagai perbedaan, mesti dimaknai sebagai penggalian khazanah nilai dalam rangka upaya kontekstualisasi nilai agar pancasila sebagai kompas berbangsa dan bernegara semakin hidup ditengah masyarakat Indonesia yang tengah berkonstalasi dalam gelombang tantangan perubahan zaman ini.
Catatan 06 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar