Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Kerja Mereka Untuk Siapa?

Gambar
Sumber foto: google A. Solahuddin (Catatan 28 Agustus 2016) Seusai berkegiatan, saya bersama sahabat-sahabat, melakukan evaluasi di sekretariat. Setelahnya, mengalir saja, kita berbincang banyak hal. Dari mulai politik, demokrasi, hingga strategi mencari istri. Maklum, diantara kita hanya saya yang masih bujang. Jadi wajar, kalau membahas istri, semua mata tertuju ke saya seolah menegaskan kalau saya harus cepat cari istri. Tapi poin strategis disini bukan mengenai istri atau cara jitu menaklukkan wanita, itu cuma selingan. Intinya mengeni nasionalisme dan sikap kita yang kerap menyimpan nasionalisme di laci paling bawah, paling ujung hingga lupa menyentuh. Sahabat saya, yang mengaku belum lama ini mengikuti kegiatan ‘bela negara’, bercerita mendapat informasi dari seorang yang diketahuinya ngerti dunia inteligen, bahwa di Banten, keterangannya, telah dikerahkan kurang lebih tiga ribu orang berlatar belakang militer menjadi tenaga pekerja disalah satu perusahaan....

Mengintip Reforma Agraria di Banten

Gambar
 A. Solahuddin (Catatan 16 November 2014) Indonesia merupakan negara agrais, sumber daya alamnya begitu kaya dan mempesona, dari Sabang sampai Meraoke memiliki struktur agraria produktif yang kini banyak dimanfaatkan sebagai sumber kekayaan dan pendapatan nasional. Salah satu daerah agraris di Indonesia yang perlu diperhatikan adalah Banten. Jika kita mencermati hamparan Provinsi yang telah berumur empat belas tahun ini, tentulah melihat secara jelas hamparan pesawahan yang begitu luas, perkebunan yang sangat kaya serta pesisir pantai yang menjalur. Bahkan Banten sebagai pintu gerbang yang mengakses pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Namun, pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang ada di provinsi Banten tidak berarah pada asal lokalitas, kebijakan pemerintah belum memperhatikan kearifan lokal. Hal itu diukur dari kebijakan reforma agraria yang tidak implementatif serta industrialisasi secara besar-besaran. Reforma agraria mempunyai pengertian penataan kembali (atau pem...

Salah Tafsir

Gambar
A. Solahuddin   (Catatan 14 Mei 2018) Seorang pemuda, menyingsingkan lengan baju, berusaha bangkit dari keterpurukan, mencari secercah cahaya dalam gelap. Ia mencari Tuhan, mempertanyakan nasib, bermaksud mengakhiri segala kesulitan. Berbagai profesi "miring" telah dilakukannya untuk pemenuhan hidup. Malam hari ia menangis, berjalan landai sembari menimbang-nimbang dua pilihan: mengakhiri hidup atau taubat. Tobat menjadi pilihan. Bertemulah ia dengan seseorang yang dianggap alim, Abu Jahal namanya, seorang yang kerap melontarkan dalil-dalil dan ayat Tuhan. Ia semakin yakin, itu jawaban. Menurutnya, lelaki paruh baya bernama Abu Jahal itu wasilah Tuhan yang memberi cahaya diantara gelap hidup di ambang kemelut. " Kalau kau ingin taubat dan mati dijalan Tuhan, berjihadlah", Abu Jahal menasihati. "Apa itu jihad?", tanya pemuda. " Jihad adalah berjuang dijalan Tuhan, keringat, darah bahkan nyawa wajib kau korbankan untuk agamamu, bela Tuhan deng...

Ahmadiyah dan Hak Asasi

Gambar
  Oleh : A. Solahuddin ( Catatan 10 Februari, 2011) Selain konflik di Mesir yang akhir-akhir ini menjadi sorotan, kini, konflik beragama kembali menghangat. Bahkan menenggelamkan kasus-kasus yang belum juga usai, seperti kasus Mafia Pajak, Mafia Hukum dan lain sebagainya. Semua orang mungkin tau kasus bentrokan warga dengan Jama’ah Ahmadiyah di kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang pekan lalu, Minggu 6 Februari 2011. Kasus itu menjadi perbincangan menarik banyak orang. Mata Nasional, bahkan Internasional, spontan menyoroti tindakan dehumanisasi itu. Sejenak masyarakat terlupakan terkait penurunan presiden Husni Mubarak di Messir. Menyikapinya memang dilematis, sisi lain Ahmadiyah tidak diakui Umat Islam lantaran dianggap sudah mengobok-obok hal yang paling fundamental, bahwa Ahmadiyah mengakui adanya Rasul setelah Muhammad, disaat yang sama Negara-pun memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan, menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam prinsi...

Pilgub Banten, Antara Golput dan Politik Uang

Gambar
Oleh : A. Solahuddin (Catatan 29 Desember 2016) Politik itu mengikat bagi setiap orang, inheren . Jadi, sekeras apapun menghindarinya, se-kesumat apapun membencinya, kita sebagai makhluk sosial, tak akan bisa melepaskan diri dari aktivitas politik. Mungkin itu yang dimaksud Plato, salah satu filsuf termasyhur sepanjang perjalanan dunia filsafat. menurutnya, “Politik, dalam arti kata kesalinghubungan (interrelation) antarmanusia merupakan salah satu dimensi terpenting dari manusia”. Semua orang mempunyai peran dan hak yang sama dalam menentukan sikap politiknya. Tua ataupun muda, duda maupun janda, pelajar maupun penganggur, ustadz atau preman, apapun profesi dan statusnya, semuanya sama, tanpa terkecuali. Saat ini negara sedang menghadapi kontestasi politik, pemilihan gubernur dan wakil gubernur serentak 15 Februari 2017 mendatang. Salah satunya di provinsi Banten. Lapangan pemilu tengah dihelat, panggung demokrasi berjalan di atas la...