Pilgub Banten, Antara Golput dan Politik Uang
Politik itu mengikat bagi setiap orang, inheren. Jadi, sekeras apapun menghindarinya, se-kesumat apapun membencinya, kita sebagai makhluk sosial, tak akan bisa melepaskan diri dari aktivitas politik. Mungkin itu yang dimaksud Plato, salah satu filsuf termasyhur sepanjang perjalanan dunia filsafat. menurutnya, “Politik, dalam arti kata kesalinghubungan (interrelation) antarmanusia merupakan salah satu dimensi terpenting dari manusia”.
Semua orang mempunyai peran dan hak yang sama dalam menentukan sikap politiknya. Tua ataupun muda, duda maupun janda, pelajar maupun penganggur, ustadz atau preman, apapun profesi dan statusnya, semuanya sama, tanpa terkecuali.
Saat ini negara sedang menghadapi kontestasi politik, pemilihan gubernur dan wakil gubernur serentak 15 Februari 2017 mendatang. Salah satunya di provinsi Banten.
Lapangan pemilu tengah dihelat, panggung demokrasi berjalan di atas lapangan politik yang cenderung gersang dan panas seumpama padang pasir, antusiasme suporter mulai meledak-ledak, menunjukkan fanatismenya masing diri.
Dari mulai yang berudeng-udeng sampai yang serampangan sableng ikut bergulat dibalik panggung.
Namanya juga politik pada pesta demokrasi, dalam perhelatannya, sudah tentu bersahutan ramai, kalau gak saling sahut meriah namanya bukan pesta, tapi duka cita.
Kita telah lihat persahutan adu ide dan gengsi antara tokoh suksesi. Ada yang mendidik, ada yang menghardik, saling bidik menggaet mereka yang disebut “pemilih abu-abu” untuk diwarnai sesuai keinginan : merah, biru, kuning, hijau, dan apapun itulah yang penting menjadi berwarna. Itu yang kemudian disebut sebagai proses suksesi.
Proses ini, menjadi hal penting dalam setiap pesta demokrasi, sama pentingnya dengan mengaduk kopi. Karena disitulah waktu yang pas bagi, khususnya, tim sukses untuk menyampaikan pesan-pesan moral, memberikan pendidikan politik dengan racikan yang santun, adukan yang merata sehingga figur yang di usung melalui pendekatan demokrasi yang berkualitas siap disajikan ke khalayak.
Inovasi dalam proses suksesi figur yang diusung — terselubung maupun resmi — perlu digalakkan agar eksistensinya tak membosankan masyarakat, membranding kandidat jangan hanya menggelayutkan kain di pepohonan, nyampah di pagar-pagar pinggir dan tengah kota, menakut nakuti tikus di perkampungan dengan gambar, foto kandidat yang kadang diambil saat usia 25 tahun supaya terlihat gagah dan muda, membentang bertuliskan jargon-jargon di spanduk, banner dan baligho.
Cara macam itu sangat tidak cukup dijadikan barometer penilaian masyarakat agar tidak "membeli kucing dalam karung", justeru hanya membuat jenuh. Implikasinya partisipasi masyarakat tidak bertambah, angka golput tinggi. Bagaimana kiranya kalau masyarakat nggak ngeuh, nggak ngerti siapa calon pemimpin, bagaiamana track racordnya, macam apa kemampuannya, etikanya, moralnya dan lain sebagainya. Dengan alasan apa masyarakat menyumbangkan hak pilihnya di bilik suara? Paling bantar melalui sesuatu yang dikutuk agama dan negara : money politk.
“Ketimbang suap-menyuap-disuap menjadi driving force menentukan pilihan, lebih baik golput”, anggapan sebagian orang.
Golput adalah pilihan politik melalui ijtihad yang matang, hasil timbang menimbang, bukan keputusan sembarang.
Money politik hanya akan menjauhkan pemerintah dan yang diperintah dari keberkahan, belum lagi kalau dikaji halal haramnya, lebih runyam.
Implikasinya pemimpin yang terpilih melalui money politik hanya akan membawa kemadharatan, bukan kesejahteraan apalagi kedaulatan.
Dalam Pilgub Banten, Bagaimana mungkin bisa membawa Banten ke arah yang baldatun toyibatun warobun ghofur jika cara menghasilkan pemimpinnya saja dimulai dari sesuatu yang ingkar.

Komentar
Posting Komentar