Kerja Mereka Untuk Siapa?
Seusai berkegiatan, saya bersama sahabat-sahabat, melakukan evaluasi di sekretariat. Setelahnya, mengalir saja, kita berbincang banyak hal. Dari mulai politik, demokrasi, hingga strategi mencari istri. Maklum, diantara kita hanya saya yang masih bujang. Jadi wajar, kalau membahas istri, semua mata tertuju ke saya seolah menegaskan kalau saya harus cepat cari istri. Tapi poin strategis disini bukan mengenai istri atau cara jitu menaklukkan wanita, itu cuma selingan. Intinya mengeni nasionalisme dan sikap kita yang kerap menyimpan nasionalisme di laci paling bawah, paling ujung hingga lupa menyentuh.
Sahabat saya, yang mengaku belum lama ini mengikuti kegiatan ‘bela negara’, bercerita mendapat informasi dari seorang yang diketahuinya ngerti dunia inteligen, bahwa di Banten, keterangannya, telah dikerahkan kurang lebih tiga ribu orang berlatar belakang militer menjadi tenaga pekerja disalah satu perusahaan. Mendengarnya, sontak pikiran saya beranalisa dan meraba-raba sambil bertanya, “kok bisa ya?”
Sejalan dengan tadi, tempo hari saya juga pernah mendapati kabar bahwa ada sekitar sepuluh ribu tenaga kerja asing yang dikirim ke Indonesia, parahnya diduga tenaga kerja itu narapidana yang sengaja dibuang. Bayangkan, mereka berprinsip ketimbang narapidana makin bikin sesak penjara dan membebankan negaranya, lebih baik dipekerjakan ke Indonesia, dibekali dasi dan keahlian teknologi serta seperangkat alat IT. Canggih.
Narapidana asing saja, di Indonesia menjadi berdaya, difasilitasi pula. Lalu gimana dengan pengangguran yang masih numpuk di Indonesia, sudahkan mereka terberdaya, atau pengangguran friksional maupun struktural mau di diamkan saja?
Dalam kacamata teori konspirasi, kondisi ini, jika benar kenyataannya, bagi saya yang awam hal itu bukan semata kerjasama bilateral antar negara, melainkan ada upaya sistematis dan massif dilakukan asing untuk menguasai negeri kita tercinta ini.
Sebetulnya sudah banyak yang menyadari kalau sejak dulu memang imperialisme serta monopoli negara-negara maju sudah ada, bahkan hingga sekarang terus merangsek, menguasai sendi-sendi vital perekonomian kita, menerobos benteng-benteng pertahanan negara yang majemuk ini.
Diciptakannya kerjasama ekonomi multi negara semisal Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), bisa jadi merupakan salah satu pintu gerbang untuk melancarkan mission invisible (misi tersembunyi) agar makin mendominasi sendi perekonomian negara berkembang seperti Indonesia. Kalau benar ungkapan sahabat saya tadi, mengenai tiga ribu personel militer asing dikerahkan ke Banten berkamuflase sebagai tenaga kerja, ini tentu bukan persoalan sederhana, bukan juga semata menguasai basis ekonomi, melainkan juga upaya militer untuk mengikis pertahan. Saya sih berharap informasi itu gak benar.
Bagaimana tidak, secara geografis, Banten jelas wilayah yang strategis, alamnya, tanahnya juga lautnya. Kalau daratan Banten sebagai kunci akses yang menopang aktivitas perekonomian nasional dan lautan Banten yang kerap disebut Jokowi sebagai salah satu basis maritim sebagai penghubung pulau Sumatera-Jawa ini telah dikuasai, maka akan lebih mudah asing menguasai negara kita bahkan secara terang-terangan. Belum lagi jika kita menilik wilayah-wilayah perbatasan yang lain di negara kita, sudah berapa luas wilayah yang telah berhasil disabotase pihak asing?
Sebagai warga negara yang peduli, kita tidak boleh tutup mata, meskipun ada pemerintah, ada domain yang telah ditugaskan ngurusi hal macam ini. Paling tidak, sebagai masyarakat kita ikut memutar otak, meskipun kita tidak tahu para pemangku kebijakan memutar otak untuk siapa. Meskipun kita tidak ngerti para pemangku kebijakan bekerja untuk siapa. Tapi yang jelas, saya menyadari bahwa mereka lebih ngerti ketimbang kita yang awam, mereka lebih mafhum ketimbang kita yang hanya bisa bergumam, mereka lebih berisi bicara mengenai solusi.
Tentu saja, dalam hal pemetaan sebuah negara, pun realitas sosial yang terjadi hari ini mereka lebih ‘melek' dibanding kita. Tak perlu juga kita ragu pada kefasihan pemimpin kita bicara Soal pelbagai teori analisis sosial, sudah jelas mereka lebih mapan membaca pertautan ide, sebagaimana sekarang kita memasuki era gozwatul fikr (perang pemikiran).
Setidaknya, pemimpin kita sudah menyiapkan usaha-usaha devensif bahkan preventif dalam mengantisipasi perkembanagan geopolitik nasional maupun internasional kedepan, terlebih kita punya inteligen negara sebagai spionase. Jadi, yakin sajalah. Hasilnya, nanti kita sama-sama lihat di usia Indonesia genap mencapai seabad.

Komentar
Posting Komentar