Postingan

Pilih Alquran atau Pancasila?

Pertanyaan TWK dalam rangka alih status KPK itu menjadi polemik dalam dinamika kebangsaan kita akhir-akhir ini. Banyak respon negatif dari tokoh terkemuka terhadap pembuat soal yang seolah membenturkan alquran dengan pancasila sebagai dasar negara. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra misalnya, ia menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melecehkan agama. Menurutnya, Alquran dan Pancasila tidak bisa dipertentangkan. Sebab, keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Dengan demikian, kata dia, alquran dan pancasila tidak bisa dihadapkan menjadi suatu pilihan.  Alquran sebagai kitab suci umat Islam tentunya telah memberikan panduan yang amat lengkap sebagai petunjuk menjalankan berbagai macam nilai, baik ibadah, muamalah maupun tata kelola kenegaraan.  Pesan yang terkandung dalam alquran justeru menginspirasi lahirnya berbagai pemikiran kenegaraan yang menjadi fondasi b...

TETAP OPTIMIS DI TENGAH LESUNYA EKONOMI (WFH)

“Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri”, ungkap Roosevelt, di hari pelantikannya sebagai presiden Amerika pada 4 Maret 1933 silam. Roosevelt menebarkan optimisme bisa bangkit dari depresi ekonomi yang mulai terjadi tahun 1929 hingga masa sebelum perang dunia II. Ekonom dan pelaku sejarah menyebut depresi tersebut sebagai kejatuhan ekonomi terbesar dan terpanjang dalam sejarah era industri. Mengutip dari berbagai rilis media sosial, banyak yang menganggap depresi yang terjadi sebagai bencana ekonomi paling dahsyat pada abad ke-20. Wabah pandemi covid 19 yang telah menyebar di berbagai belahan dunia, menebar ketakutan global akan terjadinya  resesi ekonomi. Bahkan, Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan situasinya bakal lebih buruk dari depresi besar (Great Depression) yang terjadi pada 1930-an itu. The Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi Negara-negara maju dan berkembang yang tergabung dalam G20 akan mengalami resesi pada 2020. Me...

PANDEMI SENGAJA DICIPTAKAN TUHAN SEBAGAI COMMON ENEMY?

Dimana ada bencana, disitu ada ratapan. Begitu kiranya, sejak pandemi covid 19 merayap ke bumi, dunia hampir porak-poranda dibuat gagap mengatasinya, terlebih bagi negara-negara berkembang. Segala rekayasa sistem yang dibangun belum cukup efektif membentengi dampak pandemi yang sudah sama-sama kita rasakan sekarang.  Kabarnya pandemi virus terus bermutasi memperburuk gelombang covid 19, para ilmuan menyebutkan mutasi covid menjadi varian Delta lebih cepat menular, faktanya sekarang kita dikejutkan oleh data-data korban yang memang gak ada habis-habisnya.  Bencana global ini sulit diterawang kapan usai, walaupun para ahli dengan sejumlah lampiran kajian teori ilmiahnya sudah banyak yang coba prediksi, tapi siapa kuasa membendung sesuatu--kalau boleh saya katakan-- yang datang dari "langit", kita hanya bisa berupaya sekuat tenaga melakukan serangkaian ikhtiar sembari mengetuk pintu langit merapal doa supaya terhindar dan lekas terbebas dari "musuh tak terlihat" bernam...

Kerja Mereka Untuk Siapa?

Gambar
Sumber foto: google A. Solahuddin (Catatan 28 Agustus 2016) Seusai berkegiatan, saya bersama sahabat-sahabat, melakukan evaluasi di sekretariat. Setelahnya, mengalir saja, kita berbincang banyak hal. Dari mulai politik, demokrasi, hingga strategi mencari istri. Maklum, diantara kita hanya saya yang masih bujang. Jadi wajar, kalau membahas istri, semua mata tertuju ke saya seolah menegaskan kalau saya harus cepat cari istri. Tapi poin strategis disini bukan mengenai istri atau cara jitu menaklukkan wanita, itu cuma selingan. Intinya mengeni nasionalisme dan sikap kita yang kerap menyimpan nasionalisme di laci paling bawah, paling ujung hingga lupa menyentuh. Sahabat saya, yang mengaku belum lama ini mengikuti kegiatan ‘bela negara’, bercerita mendapat informasi dari seorang yang diketahuinya ngerti dunia inteligen, bahwa di Banten, keterangannya, telah dikerahkan kurang lebih tiga ribu orang berlatar belakang militer menjadi tenaga pekerja disalah satu perusahaan....

Mengintip Reforma Agraria di Banten

Gambar
 A. Solahuddin (Catatan 16 November 2014) Indonesia merupakan negara agrais, sumber daya alamnya begitu kaya dan mempesona, dari Sabang sampai Meraoke memiliki struktur agraria produktif yang kini banyak dimanfaatkan sebagai sumber kekayaan dan pendapatan nasional. Salah satu daerah agraris di Indonesia yang perlu diperhatikan adalah Banten. Jika kita mencermati hamparan Provinsi yang telah berumur empat belas tahun ini, tentulah melihat secara jelas hamparan pesawahan yang begitu luas, perkebunan yang sangat kaya serta pesisir pantai yang menjalur. Bahkan Banten sebagai pintu gerbang yang mengakses pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Namun, pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang ada di provinsi Banten tidak berarah pada asal lokalitas, kebijakan pemerintah belum memperhatikan kearifan lokal. Hal itu diukur dari kebijakan reforma agraria yang tidak implementatif serta industrialisasi secara besar-besaran. Reforma agraria mempunyai pengertian penataan kembali (atau pem...

Salah Tafsir

Gambar
A. Solahuddin   (Catatan 14 Mei 2018) Seorang pemuda, menyingsingkan lengan baju, berusaha bangkit dari keterpurukan, mencari secercah cahaya dalam gelap. Ia mencari Tuhan, mempertanyakan nasib, bermaksud mengakhiri segala kesulitan. Berbagai profesi "miring" telah dilakukannya untuk pemenuhan hidup. Malam hari ia menangis, berjalan landai sembari menimbang-nimbang dua pilihan: mengakhiri hidup atau taubat. Tobat menjadi pilihan. Bertemulah ia dengan seseorang yang dianggap alim, Abu Jahal namanya, seorang yang kerap melontarkan dalil-dalil dan ayat Tuhan. Ia semakin yakin, itu jawaban. Menurutnya, lelaki paruh baya bernama Abu Jahal itu wasilah Tuhan yang memberi cahaya diantara gelap hidup di ambang kemelut. " Kalau kau ingin taubat dan mati dijalan Tuhan, berjihadlah", Abu Jahal menasihati. "Apa itu jihad?", tanya pemuda. " Jihad adalah berjuang dijalan Tuhan, keringat, darah bahkan nyawa wajib kau korbankan untuk agamamu, bela Tuhan deng...

Ahmadiyah dan Hak Asasi

Gambar
  Oleh : A. Solahuddin ( Catatan 10 Februari, 2011) Selain konflik di Mesir yang akhir-akhir ini menjadi sorotan, kini, konflik beragama kembali menghangat. Bahkan menenggelamkan kasus-kasus yang belum juga usai, seperti kasus Mafia Pajak, Mafia Hukum dan lain sebagainya. Semua orang mungkin tau kasus bentrokan warga dengan Jama’ah Ahmadiyah di kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang pekan lalu, Minggu 6 Februari 2011. Kasus itu menjadi perbincangan menarik banyak orang. Mata Nasional, bahkan Internasional, spontan menyoroti tindakan dehumanisasi itu. Sejenak masyarakat terlupakan terkait penurunan presiden Husni Mubarak di Messir. Menyikapinya memang dilematis, sisi lain Ahmadiyah tidak diakui Umat Islam lantaran dianggap sudah mengobok-obok hal yang paling fundamental, bahwa Ahmadiyah mengakui adanya Rasul setelah Muhammad, disaat yang sama Negara-pun memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan, menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam prinsi...