Salah Tafsir
Seorang pemuda, menyingsingkan lengan baju, berusaha bangkit dari keterpurukan, mencari secercah cahaya dalam gelap.
Ia mencari Tuhan, mempertanyakan nasib, bermaksud mengakhiri segala kesulitan. Berbagai profesi "miring" telah dilakukannya untuk pemenuhan hidup.
Malam hari ia menangis, berjalan landai sembari menimbang-nimbang dua pilihan: mengakhiri hidup atau taubat.
Tobat menjadi pilihan. Bertemulah ia dengan seseorang yang dianggap alim, Abu Jahal namanya, seorang yang kerap melontarkan dalil-dalil dan ayat Tuhan. Ia semakin yakin, itu jawaban.
Menurutnya, lelaki paruh baya bernama Abu Jahal itu wasilah Tuhan yang memberi cahaya diantara gelap hidup di ambang kemelut.
"Kalau kau ingin taubat dan mati dijalan Tuhan, berjihadlah", Abu Jahal menasihati.
"Apa itu jihad?", tanya pemuda.
"Jihad adalah berjuang dijalan Tuhan, keringat, darah bahkan nyawa wajib kau korbankan untuk agamamu, bela Tuhan dengan berjuang untuk agamaNya", jawab Abu Jahal sambil mengelus jenggot.
Mereka larut membicarakan jihad, rentetan ayat telah banyak disampaikan pada pemuda. Hingga merambah ke relasi agama dan negara.
Lelaki itu bicara bahwa negara kita thogut, demokrasi melenceng dari ajaran agama, siapapun yang mengikuti sistem negara kita saat ini, kafir dan halal darahnya.
Sampai pada kesimpulan bahwa "daulah islamiyah" harus berdiri. Pemuda itu mengangguk seraya menyepakati.
Beberapa waktu berlalu, seorang pemuda makin yakin, matang tekad, kemudian menjadi bagian dari jaringan "pembela Tuhan".
Saat latihan militer, disebuah rimba yang tak tersentuh, ia kerap mengutuk negara, membenci segala yang berbau demokrasi.
"Thogut, thogut, kafir!!!", teriaknya sambil menembakkan peluru dari senjata ilegal yang entah siapa pemasoknya. Selalu itu yang ia teriakan saat jemarinya meletupkan laras panjang. Berulang-ulang.
Doktrin Abu Jahal telah mendarah daging, pemuda itu semakin hebat, mahir merakit senjata, bom dan “mengantongi” beberapa tafsir keliru mengenai ayat tentang jihad.
Siapa sangka seorang pemuda yang diujung jalan keputus asaan kemudian menjadi agen vital dari "jaringan pembela Tuhan" tanpa sadar telah diikat sebuah kejahatan internasional. Terorisme.
Hingga pada saat tertentu, pemuda itu hancur meledakkan diri bersama orang-orang tak berdosa, membuat kisruh negara. Ia telah melaksanakan tugas yang dianggapnya suci padahal di benci.
"agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama", kata RA. Kartini yang saban tahun kita peringati harinya.
Agama itu cahaya yang menerangi, tapi jika agama diatas namakan untuk merusak, membunuh, cahaya itu tak menuntun kita kejalan terang bukan?
Ini hanya cerita fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh atau apapun itu, di jamin gak sengaja. Jangan salah tafsir.

Komentar
Posting Komentar