PANDEMI SENGAJA DICIPTAKAN TUHAN SEBAGAI COMMON ENEMY?
Dimana ada bencana, disitu ada ratapan. Begitu kiranya, sejak pandemi covid 19 merayap ke bumi, dunia hampir porak-poranda dibuat gagap mengatasinya, terlebih bagi negara-negara berkembang. Segala rekayasa sistem yang dibangun belum cukup efektif membentengi dampak pandemi yang sudah sama-sama kita rasakan sekarang.
Kabarnya pandemi virus terus bermutasi memperburuk gelombang covid 19, para ilmuan menyebutkan mutasi covid menjadi varian Delta lebih cepat menular, faktanya sekarang kita dikejutkan oleh data-data korban yang memang gak ada habis-habisnya.
Bencana global ini sulit diterawang kapan usai, walaupun para ahli dengan sejumlah lampiran kajian teori ilmiahnya sudah banyak yang coba prediksi, tapi siapa kuasa membendung sesuatu--kalau boleh saya katakan-- yang datang dari "langit", kita hanya bisa berupaya sekuat tenaga melakukan serangkaian ikhtiar sembari mengetuk pintu langit merapal doa supaya terhindar dan lekas terbebas dari "musuh tak terlihat" bernama covid 19.
Sejenak pikiran saya terbawa pada bencana yang terjadi di masa para Nabi yang kisahnya di-abadi-kan dalam alquran: bencana banjir selama enam bulan di zaman Nabi Nuh misalnya, hujan batu di era nabi Luth, bencana berupa angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah kepada Fir’aun cs pada masa Nabi Musa AS, bencana pada masa Nabi Hud terhadap kaum 'Aad, soal gempa yang memporak-porandakan kaum Nabi Shaleh AS hingga kaum Nabi Syu’aib. Semua yang terjadi itu secara tegas disebutkan sebagai peringatan dan pelajaran, agar kita selaku kholifah fil ardh, bisa melek dan intropeksi mengapa sebab 'Tuhan marah?'.
Perkara pandemi, pada masa Rasulullah juga pernah terjadi, yang dikenal dengan wabah tho'un. Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhori, Rasul menjelaskan bahwa tho'un sesungguhnya penyakit menular dan mematikan sebagai ujian kepada siapa saja yang dikehendaki Gusti Allah, juga menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.
Ujian dan rahmat Tuhan rasanya dua kata kunci yang gak kalah penting dijadikan bahan kontemplasi menyingkap rahasiaNya, sebab menempatkan cara pandang 'ilahiah' sebagai dasar pikiran menilai, bisa buat jiwa jadi tentram dan terhindar dari paranoid yang berlebih. Tapi bukan berarti jadi fatalistik, sebab pasrah tanpa upaya juga bukan hal benar. Karenanya ikhtiar harus tentu digalakkan mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran, selain menekan lonjakan angka korban juga yang gak kalah penting, mencari solusi kemiskinan, pengangguran dan lesunya daya beli masyarakat karena PPKM. Yang bikin makin gak bisa tidur, banyak ternyata angka putus sekolah karena biaya. Di dunia perkuliahan pun sama.
Kalau perang bisa dimaknai sebagai jalan menuju damai, anggap saja covid-19 sengaja diciptakan Tuhan sebagai common enemy bagi warga dunia supaya bersatu bahu membahu lawan pandemi sampai tak ada lagi cerita bom bardir di sana-sini: Timur Tengah misalnya, dan yang terhangat Israel-Palestina, hingga tercipta kedamaian antar sesama alias ukhwah basyariyah. Barangkali Tuhan menjajal sejauh mana sikap kemanusiaan kita ditengah persaingan ekspansi bisnis farmasi, APD, Alkes, dan pernak pernik bisnis digital serta seperangkat jejaringnya menyambut 'peradaban baru' pasca pandemi.
Dipikir-pikir, sudah dua kali musim haji pandemi melanda, menutup ruang umat muslim yang rindu ke baitullah nunaikan ibadah haji. Nyatanya rindu itu belum bisa tersampaikan. Ngeri-ngeri sedap kalau ini ditafsirkan bahwa Tuhan lagi menutup pintu rumahNya. Kalau tuan rumah menutup pintu buat tamu, itu pertanda apa kira-kira? kesel, sebel, atau males dimintai hutang dengan segudang janji yang gak pernah ditepati. Kita perlu muhasabah, barangkali kesalahan kita 'ngurus bumi' terlalu krodit sampai-sampai bertamu saja sulit. Tuhan tau niat kita, termasuk niatan siapa saja yang bilang "Indonesia gak bisa berangkat haji karena kebodohan pemerintah bernegosiasi dengan Arab Saudi", juga siapapun yang bilang dan yakin bahwa pandemi ini konspirasi global negara adidaya, rekayasa yang diciptakan melalui tangan manusia. Sekali lagi, Tuhan maha tau isi hati orang.
Sudahi Tuhan, plisss. Sudah banyak yang mati, mulai dari orang biasa, perkasa hingga alim ulama pergi ninggalin keluarganya, koleganya bahkan umatnya. Kami mohon ampun, biarkan kami belajar memetik hikmah dari perkara ini. Kami belum siap menyaksikan kematian alam semesta karena ditinggalkan oleh ahli ilmu, jangan cabut ilmu-Mu di bumi ini karena sebab semakin banyak penerus risalah para nabi yang telah mati. Tanpa mereka, kita gelap gulita.
Catatan 15 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar