Kebobrokan Nasionalisme
Kesolehan sosial serasa gersang, segersang padang pasir. Saat ini bahkan mungkin lebih buruk dibandingkan dengan Indonesia sebelum merdeka. Sekarang kita menyaksikan banyak kemajuan di segala bidang, tapi minim kesadaran sosial. Padahal kemajuan jaman harusnya beriringan pula dengan meningkatnya solidaritas sosial dan humanisme.
Apa sebenarnya karakter yang kita miliki sebagai orang yang lahir dan tumbuh di negara tercinta ini, apa karakter yang didambakan sebagai bangsa yang beradab? Nyatanya sikap individualisme masih dominan. Apa mungkin karena peran komunitas, institusi, lembaga-lembaga politik dan masing individu tidak berjalan dengan kebijaksanaan? Wallahu a’lam.
Bicara mengenai karakter suatu bangsa, berarti pula melukiskan suatu tingkah laku individu yang bergejolak dan hidup di dalam tatanan masyarakat. Semuanya tidak terlepas dari budaya, baik itu yang dicipta maupun yang diwariskan. Rekonstruksi budaya sama sejalan dengan berkembangnya jaman, sesuai apa yang menjadi kebutuhan masyarakat saat ini.
Kita tau industrialisasi telah mengakar, hingga menjadi kebutuhan bagi banyak orang yang tentu saja ada kaitannya dengan budaya di dalam masyarakat dewasa ini. Banyak hal positif dari industrialisasi, misalnya berdampak baik bagi laju pertumbuhan ekonomi. Namun tak bisa ditampik, industrialisasi juga melahirkan sisi negatif. Banyak orang yang bergantung pada ring kapitalisme global, juga terbawa arus liberalisasi budaya.
Memang benar, kalau tak mau tertinggal, kita tidak semestinya apatis terhadap laju globalisasi. Tetapi apakah melulu globalisasi itu disambut dengan sikap materialistis, sampai kita tak tau diri sendiri.
Setingan produksi-industrialisasi telah mengubah pola pikir kita sebagai manusia, dampaknya berujung pada sikap liberal, individual dan persaingan bebas yang cenderung memicu gesekan sosial. Penghargaan terhadap sesama tidak dilihat dengan berapa keringat yang menetes juga seberapa payahnya otak seseorang bekerja, tetapi sejauh mana orang menguasai intrik-picik.
Kehidupan saat ini dikemas sebagaimana bermain judi, siapa pandai bermain dialah pemenang. Hanya dengan modal kepintaran, seseorang bahkan tidak cukup untuk menjadi pemenang dan terbebas dari belenggu sosial. Seperti pepatah bilang — kesuksesan itu ditentukan oleh garis tangan dan campur tangan. Berangkat dari itu, kemudian pola pikir seseorang terpengaruh.
Globalisasi pada sisi tertentu bak ombak yang begitu deras menerjang karang, nilai-nilai budaya dan budi pekerti terkikis habis. Tampaknya kita memang belum siap menyambut segala perkembangan yang terus melesat ini, sehingga yang bermain hanya orang-orang tertentu saja, segala cara dihalalkan untuk mencapai kepentingan pribadi. Pada akhirnya tidak ada lagi yang memikirkan soal pentingnya berbudaya, mendaur ulang nilai-nilai budaya yang baik agar lebih menguat di jiwa kita selaku mayarakat Indonesia ditengah ketimpangan sosial yang terjadi.
Jiwa nasiolalisme sangat penting, untuk itu nasionalisme juga harus menyasar pada orang yang mulai frustasi, tidak merasa diperhatikan oleh sesama — bagi mereka masyarakat tertinggal. Manifestasi masyarakat yang jaya tidak ubahnya hanya mimpi-mimpi di siang bolong, alias utopis, holistifisme sistem sosial di negri ini belum tercapai, pemerataan jauh panggang dari api. Itulah dampak jika berbangsa tidak berkarakter.
Sujatmoko, dalam kumpulan esainya mengatakan: jika berbicara politik budaya maka kita sedang membicarakan kepentingan masyarakat.
Ada dua faktor yang meski kita pikirkan bersama. Integritas nasional dan modernisasi. Keduanya sangat berkaitan. Jika kita dapat mempertahankan, mengimbangi segala bentuk kebudayaan baru (akulturasi), integritas bangsa akan terjaga.
Segala sesuatunya memang dimulai melalui hal terkecil, dari diri kita sendiri. Bersikap ramah terhadap sesama adalah awal untuk menyokong budaya yang baik di Indonesia.
Kita juga mesti menghapus istilah kelas sosial, meskipun stratifikasi memang tak dipungkiri, sejak dulu golongan-golongan sosial sudah ada. Dalam sistem kerajaan misalnya, kental dengan tingkatan-tingkatan sosial, darah biru dan rakyat jelata.
Begitulah stratifikasi, tidak akan pernah hilang istilah itu jika fikiran kita mentok hanya pada nilai-nilai materi.
Kesetaraan adalah hakikat hidup, tidak ada perbedaan antara manusia satu dan yang lainnya, karena Tuhan menilai derajat seseorang hanya dari sisi ketakwaan, bukan dilihat dari kaya atau miskin.
Boleh saja orang berlomba untuk memiliki tetek bengek duniawi, rumah megah, mobil mewah, hidup berkecukupan dengan gemerlap duniawi. Tapi hubungan antar sesama menusia di negeri ini harus tetap di utamakan, agar bangsa yang damai dan penuh kebijaksanaan dapat kita raih.
Komentar
Posting Komentar