Uwa Sanah, Si Nenek Tangguh
Pada saat masa usia lanjut (manula), produktifitas seseorang
sangat terbatas, bahkan tidak produktif sama sekali. Nenek berusia
lanjut biasanya tidak bisa melakukan aktifitas apapun yang menghasilkan,
hanya duduk dirumah kemudian dirawat oleh anak-anak dan cucu-cucunya.
Namun kali ini berbeda, seorang nenek murah senyum itu sangat gemar
beraktifitas.Uwa Sanah, begitu ia akrab di panggil, nenek jompo yang usianya berkisar tujuh puluh tahun-an itu setiap harinya selalu bekerja, saat pagi hingga siang hari ia disibukkan menganyam belit (atap gubuk) kemudian ia jual untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari. Dan pada sore hari nenek yang sudah bongkok itu pergi ke pesawahan mencari rumput untuk memberi makan peliharaan kesayangannya, kambing. Selain kambing, nenek yang ramah itu juga memelihara beberapa ekor ayam dan bebek.
Nenek jompo itu mengaku, kambing, ayam dan bebek kepunyaannya adalah harta paling berharga yang ia miliki, selain itu tidak ada lagi. "Siapa lagi kalau bukan saya yang merawat, orang lain mana perduli menyoal saya", ungkap uwa Sanah saat penulis temui di kediamannya, Selasa, 19 Juni 2012.
Uwa Sanah tinggal di gubuk yang sebetulnya sudah tidak layak huni, bersama satu anak perempuan juga menantunya. Menurut mereka, ia tetap nyaman tinggal di tempatnya, meskipun dirumah yang tidak layak: tiang penyanggah atapnya sudah rapuh, tembok yang terbuat dari bilik itu pun sudah bolong-bolong, tidak ditemukan lantai seperti keramik, hanya tanah sebagai lantainya. Juga ketika hujan turun, sudah barang tentu mereka terguyur air hujan lantaran atapnya bocor.
Uwa Sanah beserta keluarga bukan tidak mau memperbaiki rumahnya, tetapi ia tidak sanggup merogoh kocek kantong, "dapat biaya dari mana? Wong untuk makan aja kita gopoh gapah, apalagi untuk memperbaiki rumah", jawab nenek itu saat ditanya.
Di Kampung Telaga, Desa Kibin, Kecamatan Kibin-Kabupaten Serang, uwa Sanah lahir dan menetap hingga sekarang. Desa yang mayoritas penduduknya petani. Sebetulnya, Kibin ialah salah satu daerah penghasil PAD terbanyak di Kabupaten Serang, mengingat industri didaerah ini cukup berkembang pesat, sekarang sudah banyak imigran berdatangan memburu pabrik-pabrik yang ada di daerah Kibin untuk menjadi buruh, dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.
Namun semua itu tidak berpengaruh sama sekali bagi uwa Sanah. Ia tidak pernah mengenal dan menikmati program-program sosial dari pemerintah daerah maupun pusat, bantuan pemerinta
h seperti program rumah tidak layak huni (RTLH) misalnya. Ia juga tidak pernah mengerti dan mencicipi CSR, program sosial yang digelontorkan perusahaan untuk masyarakat yang berhak. Padahal, orang seperti uwa Sanah sangat berhak menikmati semua itu.
Namun uwa Sanah tetap tegar dan bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini, meskipun serba kekurangan. "Bisa makan saja saya sudah sangat bersyukur, dunia tiada arti bagi saya, karena semuanya akan kembali kepada Tuhan", gumam uwa Sanah di sela-sela perbincangan.
19 Juni, 2012
Komentar
Posting Komentar