SURAT UNTUK IBU
AMBIL HIKMAHNYA...
Salam hormat yang tidak pernah surut untuk ibu dirumah, yang selalu mendoakan saya agar kelak menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Bagaimana keadaan ibu disana, dikampung yang damai nan tentram itu? Semoga baik-baik saja ya. Titip salam untuk ayah bu, jangan bosan ingatkan ayah untuk berhenti merokok, minimal kurangi lah merokaknya. Kasihan jantungnya, tapi memang harus butuh kesabaran yang ekstra menghadapi kebandelan ayah. Saya yakin ibu bisa.
Malam ini saya mengingat suara ibu waktu tempo hari nelpon saya, jelas terdengar ditelinga ibu berkata: ”baik-baik disana nak, jangan nakal. Puasa yang rajin dan jangan pernah meninggalkan sholat, Insya Allah hajatmu dalam belajar diridhoi Gusti”. Begitu hawatirnya ibu terhadap saya, meski saya sering membandel, ibu tetap tegar mendidik saya. Sudah lama juga yah bu saya tidak pulang kerumah, mungkin disana banyak perkembangan yang saya tidak tahu, semoga perkembangan itu positif yah bu. Saya rindu masakanmu, rindu berkumpul dengan ayah, ibu dan adek saya disana.
Dalam surat ini hal yang pertama saya ucapkan ialah memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu, mungkin ibu agak kecewa mendengarnya, tetapi kalau terus ditutup-tutupi rasanya saya salah juga. Sebetulnya saya tidak berani mengatakan, tapi saya mencoba memberanikan diri untuk jentel, karena ibu dari dulu mengajarkan pada saya untuk menjadi seorang lelaki yang jentel, bertanggung jawab atas perilaku yang sudah diperbuat.
Ibu tentunya masih ingat si Lia, perempuan yang setahun lalu saya kenalkan ke ibu. Sekarang dia hamil bu, dan anak dalam kandungannya itu adalah anak saya. Saya sedih bu, saya tidak bisa menjadi seperti yang ibu inginkan, saya merasa hidup ini tidak berguna bila harus mengecewakan seorang ibu. Terlebih ibu kecewa atas tingkah biadab saya. Mungkin ibu nangis mendengar kabar ini, tetapi mau bagaimana lagi bu, nasi sudah menjadi bubur dan saya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan terhadap Lia anak pak RT itu. Saya sangat menyesal bu, tetapi penyesalan pun tidak ada artinya. Meskipun melakukannya atas dasar kekhilafan, tetapi saya jelas salah.
Ayah pasti sangat marah mendengar kabar ini, seperti halnya ibu. Tetapi saya sekali lagi memohon maaf padamu ibu, dan untuk sementara ayah jangan sampai tahu, Khawatir jantungnya kambuh.
Ibu sering mengajari saya tentang iman. Tetapi entah, disini iman tergerus oleh lingkungan bu, dan saya salah satu orang yang tidak bisa menjaga iman dengan baik hingga terjerumus kedalam jurang kenistaan. Saya sekarang sungguh betul-betul bertaubat pada Ilahi Rabb, pada ibu dan semua yang kenal dengan saya. Saya ingin pulang bu, tetapi saya malu jika pulang ke kampung membawa kabar yang tidak mengenakan. Saya sungguh malu bu. Lantas saya ini harus bagaimana bu, saya berharap ibu memaafkan saya, karena selain ibu tidak ada lagi orang yang bisa menjadi tempat dimana saya berharap. Ketika jiwa saya ini terpuruk, ibu lah mata air yang menghidupkannya.
Semuanya saya kembalikan padamu, ibu berhak memperlakukan saya ini dengan sesuka hati ibu untuk menebus kesalahan saya ini. Bahkan mungkin saya tidak pantas menjadi anakmu yang selama ini menjadi harapan keluarga. Maaf bu, maaf dan maaf. Hanya itu yang bisa saya katakan.
31 Desember 2011
Salam hormat yang tidak pernah surut untuk ibu dirumah, yang selalu mendoakan saya agar kelak menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Bagaimana keadaan ibu disana, dikampung yang damai nan tentram itu? Semoga baik-baik saja ya. Titip salam untuk ayah bu, jangan bosan ingatkan ayah untuk berhenti merokok, minimal kurangi lah merokaknya. Kasihan jantungnya, tapi memang harus butuh kesabaran yang ekstra menghadapi kebandelan ayah. Saya yakin ibu bisa.
Malam ini saya mengingat suara ibu waktu tempo hari nelpon saya, jelas terdengar ditelinga ibu berkata: ”baik-baik disana nak, jangan nakal. Puasa yang rajin dan jangan pernah meninggalkan sholat, Insya Allah hajatmu dalam belajar diridhoi Gusti”. Begitu hawatirnya ibu terhadap saya, meski saya sering membandel, ibu tetap tegar mendidik saya. Sudah lama juga yah bu saya tidak pulang kerumah, mungkin disana banyak perkembangan yang saya tidak tahu, semoga perkembangan itu positif yah bu. Saya rindu masakanmu, rindu berkumpul dengan ayah, ibu dan adek saya disana.
Dalam surat ini hal yang pertama saya ucapkan ialah memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu, mungkin ibu agak kecewa mendengarnya, tetapi kalau terus ditutup-tutupi rasanya saya salah juga. Sebetulnya saya tidak berani mengatakan, tapi saya mencoba memberanikan diri untuk jentel, karena ibu dari dulu mengajarkan pada saya untuk menjadi seorang lelaki yang jentel, bertanggung jawab atas perilaku yang sudah diperbuat.
Ibu tentunya masih ingat si Lia, perempuan yang setahun lalu saya kenalkan ke ibu. Sekarang dia hamil bu, dan anak dalam kandungannya itu adalah anak saya. Saya sedih bu, saya tidak bisa menjadi seperti yang ibu inginkan, saya merasa hidup ini tidak berguna bila harus mengecewakan seorang ibu. Terlebih ibu kecewa atas tingkah biadab saya. Mungkin ibu nangis mendengar kabar ini, tetapi mau bagaimana lagi bu, nasi sudah menjadi bubur dan saya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan terhadap Lia anak pak RT itu. Saya sangat menyesal bu, tetapi penyesalan pun tidak ada artinya. Meskipun melakukannya atas dasar kekhilafan, tetapi saya jelas salah.
Ayah pasti sangat marah mendengar kabar ini, seperti halnya ibu. Tetapi saya sekali lagi memohon maaf padamu ibu, dan untuk sementara ayah jangan sampai tahu, Khawatir jantungnya kambuh.
Ibu sering mengajari saya tentang iman. Tetapi entah, disini iman tergerus oleh lingkungan bu, dan saya salah satu orang yang tidak bisa menjaga iman dengan baik hingga terjerumus kedalam jurang kenistaan. Saya sekarang sungguh betul-betul bertaubat pada Ilahi Rabb, pada ibu dan semua yang kenal dengan saya. Saya ingin pulang bu, tetapi saya malu jika pulang ke kampung membawa kabar yang tidak mengenakan. Saya sungguh malu bu. Lantas saya ini harus bagaimana bu, saya berharap ibu memaafkan saya, karena selain ibu tidak ada lagi orang yang bisa menjadi tempat dimana saya berharap. Ketika jiwa saya ini terpuruk, ibu lah mata air yang menghidupkannya.
Semuanya saya kembalikan padamu, ibu berhak memperlakukan saya ini dengan sesuka hati ibu untuk menebus kesalahan saya ini. Bahkan mungkin saya tidak pantas menjadi anakmu yang selama ini menjadi harapan keluarga. Maaf bu, maaf dan maaf. Hanya itu yang bisa saya katakan.
31 Desember 2011
Komentar
Posting Komentar