Narasi Pendek: Tidak Hanya Berteriak

Hari ini, 01 November 2014, saya bertatap dengan Bang Johnson Panjaitan, aktivis dan juga pengacara yang namanya cukup masyhur. Kita berdiskusi soal advokasi dan pengorganisasian, sebagai materi kelas Sekolah Demokrasi. Saya hanya salah satu dari sekian banyak peserta sekolah demokrasi yang berkesempatan bertemu dan diskusi dengan tokoh-tokoh kondang, salah satunya Bang Johnson itu, yang selalu berapi-api dan tetap konsisten "live in" bersama masyarakat. Baginya, keimanan adalah darah bagi perjuangan, karena iman bicara soal naluri. Mendengar perkataannya aku berkesimpulan, dia seorang nasrani yang taat. Selain itu, beberapa kali ia kerap menyebut nama Gusdur, baginya Gusdur adalah sosok yang mesti digugu dan ditiru spiritnya.

Sebenernya, Banten punya sejarah yang heroik dalam melakukan perlawanan atas koloni. Peristiwa Geger Cilegon sebagai salah satu contoh. Advokasi dan pengorganisasian, dulu kerap dimotori oleh para kiai, tokoh-tokoh agamawan yang fokus terhadap persoalan sosial. Di kampung-kampung, rutinitas kultural masyarakat seperti pengajian mingguan, acara maulidan, tahlilan dan sebagainya bagiku suatu pengorganisasian dan mobolitas tradisonal yang telah berjalan sejak lama. Artinya, agama dan budaya berpengaruh besar terhadap perubahan sosial, karena, rutinitas kultural merupakan kekuatan sosial yang tanpa tendensi, murni berpacu pada kepentingan bersama.

Kini, kolonialisme tidak hanya pada imperialisme negara asing atas Indonesia, tetapi berlaku juga pada perilaku elit yang korup. Banyak persoalan di Banten yang belum tuntas, bahkan hal yang paling fundamen sekalipun semisal kemiskinan, pendidikan, kesehatan serta penegakkan hukum yang menindih masyarakat kelas bawah. Pemangku kebijakan harus "live in", menenggelami diri dalam pertautan masyarakat secara serius, agar merasakan betapa kompleks dan menyayatnya kondisi diberbagai pojok provinsi Banten yang harus segera di tuntaskan. Kenyataannya hari ini pendidikan masih memarjinalkan si miskin, petani di rampas kedaulatannya oleh industri atas nama pembangunan dan prioritas PAD, para sarjana mengalami frustasi akibat menganggur, dan masih terlihat jelas fenomena ketika masyarakat miskin meregang kesakitan di depan ruang administrasi rumah sakit daerah yang tidak langsung ditangani akibat birokrasi yang membelit, ketika itu pula mereka harus mengadu pada siapa? Ketika itu pula meski ada inovasi serta kebijakan yang naluriah.

Peran masyarakat sangat penting dalam melegitimasi sistem juga penataan kebijakan yang pro rakyat, sebagai rakyat, kita juga berhak mendelegitimasi kebijakan pemimpin yang menyimpang. Komitmen serta konsistensi perjuangan rakyat memang mengalami pasang surut, tidak sedikit pula yang menyimpang dari misi kerakyatan. Bangsa ini banyak melahirkan aktivis penghianat juga aktivis tulen. Di Banten sendiri, tidak sedikit yang kontrol dan kritis atas perilaku menyimpang elit penguasa, tetapi banyak juga yang kemudian menjadi antek yang mengerdilkan makna perjuangan rakyat.

Ditengah babak tersanderanya moralitas individu maupun golongan, terjadinya krisis kepercayaan, kita mesti meyakini bahwa masih ada orang yang mempunyai naluri, masih ada orang yang betul tulus berjuang untuk kemashlahatan. Ia lahir dan digariskan sebagai volunter masyarakat yang membela segala haknya. Lalu kita bertanya golongan itu? Bagi saya, tak perlu dipertanyakan, karena kita semestinya menjadi bagian atas itu.

Sekarang, gerakan sipil society di Banten secara khusus harus betul-betul turun kebawah, merekam segala keluh kesah masyarakat, mengerjakan hal-hal yang ril. Tidak hanya berteriak namun kosong tindakan. 

* Anak Jelata
   Sabtu, 01 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja Mereka Untuk Siapa?

Politik Warung Kopi

Mendidik, Memberikan Tauladan yang Baik