Nyantri, Memupuk Moral Regenerasi
Moral merupakan suatu hukum perilaku yang diterapkan kepada setiap individu dalam bersosialisasi dengan sesamanya sehingga terjalin rasa hormat dan menghormati antar sesama. Pendapat lain juga mengatakan bahwa moral adalah sesuatu yang dihasilkan oleh nilai budaya dan nilai agama yang mengatur suatu individu dalam berperilaku antar sesama manusia. Secara keseluruhan moral memiliki arti norma atau nilai-nilai yang mengatur bagaimana suatu individu saling berinteraksi dengan sesama manusia.
Moralitas tentu menjadi persoalan penting, karena bangsa yang bermoral, merupakan ciri bangsa yang berbudaya dan berperadaban. Moralitas mempengaruhi segala sendi kehidupan berbangsa termasuk ikhtiar dalam mencapai kejayaannya. Sedangkan mencapai kejayaan yang tanpa disertai moralitas bangsa sama halnya dengan mengejar ketidakmungkinan, sebab moralitas merupakan ikhwal fundamen, dasar utama yang universal.
Perkara moral juga menjadi salah satu alasan Rasulallah di utus, yaitu untuk menyempurnakan akhlak ditengah-tengah budaya jahiliah yang tidak bermoral dan berketuhanan, Rasulullah lahir menjadi penuntun peradaban dunia yang bermoral sesuai dengan tuntunan Islam.
Dalam ruang sosial kita, kerap mempertontonkan perilaku tidak bermoral, mulai dari caci maki antar kelompok sampai dengan perebutan upeti. Dari tontonan liberasi lakon (hedonisme) yang tidak mendidik sampai dengan perilaku korupsi.
Perilaku semacam itu, selain dilakukan banyak generasi bangsa, juga kerap diperlihatkan oleh kalangan teknokrat, politisi bahkan kalangan intelektual.
Maka tidak salah jika seseorang beranggapan bahwa babak modern seperti sekarang, ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebenaran dan moralitas semakin bias keberadaannya.
Kita sadar bahwa konsekuensi dari globalisasi mengikis karakter bangsa, eksodus budaya 'luar' serta merta dijadikan trend bagi generasi muda, gaya hidup yang hedon, hura-hura dan konsumtif, mengesampingkan budaya serta mendeviasi nilai-nilai moral.
Kalau kerusakan moral sudah terjadi di kalangan pemuda, tentu berimplikasi fatal bagi agama, nusa dan bangsa. Karena Pemuda merupakan barometer masa depan suatu bangsa.
Jika saat ini golongan muda sebagai generasi mempunyai sikap yang baik dan optimistis, maka itulah gambaran bangsa kedepan. Namun jika justeru yang terjadi generasi bangsa telah rusak moralnya serta pesimsitis dalam merajut hari depan, apa jadinya bangsa ini di hari yang akan datang. Mungkin bangsa ini tidak akan mampu melahirkan pemimpin yang adil, yang membawa ridho Allah sehingga mencapai “baldatun toyyibatun warobun ghofur”.
Pada sepanjang peradaban manusia, kita tahu bahwa pemuda adalah sosok pelopor dalam berbagai hal. Segala perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya.
Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda.
Dalam berbagai diskursus, ada banyak sosok pemuda muslim yang patut menjadi teladan, misalnya Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah yang mendapat julukan dari Rasulullah: “Thalhah si Pemurah, Thalhah si dermawan di usianya yang masih sangat muda”.
Selain itu ada Sa’ad bin Abi Waqash, seorang kesatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Tokoh yang patut digugu selanjutnya adalah Zaid bin Tsabit, ia sosok pemuda jenius mahir baca-tulis, yang pada umur 13 tahun mendaftar jihad fii sabilillah. Ia ditugaskan menghimpun wahyu oleh Rosulallah SAW, di usia 21 tahun.
Kehebatan pemuda juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.
Beberapa catatan sejarah tersebut, adalah bukti bahwa kaum muda selalu menjadi lokomotif dalam setiap fase peradaban yang semestinya menjadi rangsangan untuk meraih kegemilangan bangsa Indonesia pada peradaban modern seperti sekarang ini sesuai dengan jati diri bangsa, bukan sebaliknya, malah tergerus dan mengalami distorsi.
Menjadikan kaum muda agar memiliki karakter kuat dalam keagamaan-spiritual, merupakan suatu perjuangan yang tidak mudah dan bukan persoalan sederhana.
Pertentangan yang paling berat dan sulit serta menantang dalam fase kehidupan adalah menundukkan masa muda untuk tumbuh dalam ketaatan terhadap agama.
Mengarahkan kaum muda kepada hal positif, dalam pola mendidik di pesantren tetap menjadi modal fundamen yang perlu terus digalakkan dewasa ini, sehingga agama dijadikan pegangan hidup (way of life).
Kalau saja esensi beragama sudah dimiliki setiap individu, maka perilaku “miring” amoral yang kerap dipertontonkan pada jaman ini akan terminimalisir.
Tentu semua itu perlu didorong dengan melalui berbagai skema, melalui kebijakan pemerintah misalnya dengan membuat aturan “wajib nyantri” dan sebagainya. Karena tanpa ada afirmasi, tidak akan ada keseragaman persepsi dalam meretas pemuda yang ditangannya menggenggam masa depan dalam meraih peradaban Indonesia.
Pesantren menjadi salah satu solusi dalam merapihkan puing-puing moralitas dan keaslian sikap bangsa yang telah tercerabut.
Seperti yang di ungkapkan Nurcholis Madjid, hanya pesantren yang mempunyai indigenous, mengandung makna keaslian Indonesia. Indigenounitas yang di ungkapkan Madjid, barangkali merujuk pada corak dan karakter pesantren yang mempunyai sistem nilai tradisional, namun tetap mampu menggauli modernitas dan perkembangan jaman.
Itulah sebab mengapa pesantren perlu diikut sertakan dalam setiap proyek pembangunan manusia dalam mencetak karakter, mentalitas serta moralitas bangsa seperti yang diharapkan.
Pesantren telah diyakini memiliki kekuatan potensial menjadi agen vital untuk melakukan perubahan sosial di tengah masyarakat. Seperti pernah di ungkapkan Gusdur, bahwa pesantren mempunyai peran dalam memberikan kontribusi yang riil bagi perubahan masyarakat. Kontribusi tersebut dapat dilihat dari mobilisasi kultural ditengah masyarakat yang dilakukan oleh kiai dan santri serta sumbangsihnya dalam mencetak pemimpin bangsa yang berkarakter.
Selain menjadi agen perubahan kultural, pesantren dalam sejarahnya telah memainkan peranan penting dalam proses pribumisasi islam.
Soal nasionalisme, sejarah mencatat bahwa kalangan pesantren secara intens terlibat dalam menggalang pemberontakan-pemberontakan anti kolonial di Jawa pada abad 19. Sehingga pesantren, kiai dan santri mempunyai tempat tersendiri dihati masyarakat hingga kini.
Namun meskipun pesantren tetap mempunyai tempat yang khusus di semua kalangan masyarakat, agaknya sekarang ini kurang mempunyai tempat dikalangan muda sebagai generasi bangsa — meskipun pesantren telah banyak melakukan inovasi dalam mengimbangi modernisasi.
Kurangnya minat generasi muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa terhadap pesantren mempunyai relasi kuat dengan yang saya singgung di awal tulisan, proyek-proyek liberalisasi ekonomi dan budaya seiring dengan derasnya arus globalisasi sebagai penyebab terjadinya distorsi nilai serta dis orientasi pemikiran.
Untuk itu perlu kiranya membangun kembali pola pikir masyarakat tentang pentingnya ‘nyantri’ secara terus menerus melalui konstruksi budaya yang di tempuh melalui kebijakan, mengingat pesantren adalah penjaga moral dan transimi cultural (cultural broker).
Di pesantren, ajaran penghayatan kehidupan sangat diterapkan bagi pengembangan diri individu. Pandangan hidup ukhrowi yang kerap diajarkan didalam pesantren, kalau mampu dimiliki oleh pemuda maka akan menekan potensi bertindak diluar jalur, dan ketika kelak pemuda menjadi pemimpin, syahwat keduniawian akan terkontrol dengan baik, sehingga bangsa ini mampu menelurkan generasi muda yang cemerlang untuk hari esok dalam mencapai kejayaan.

Komentar
Posting Komentar