Paganisme dan Ekspansi Roma
![]() |
| Sumber foto: Google |
Maximillian (selanjutnya Max), menggunakan fanatisme keagamaan untuk mengambil alih kekuasaan kaum Pagan atas bangsa Semigallia.
Kaum Pagan yang dijuluki oleh Gereja Kristen awal sebagai Paganisme, adalah salah satu antitesis terpenting dalam proses definisi diri Kristen, sebagai label yang digunakan Kristen saat itu terhadap kalangan lainnya. Dengan kata lain Paganisme bagi kristen Roma adalah kafir.
Max melangkah melakukan ekspansi. Ambisinya tinggi menjadi raja dengan merebut kekuasaan Semigallia dari kaum Pagan yang di pimpin Viesturs.
Raja Pagan, Viesturs dan anaknya, saat hadir melayat diracun oleh Max melalui minuman jelang tradisi pemakaman seorang raja dibawah kekuasaan Roma, kematian raja tersebut juga bagian dari skema Max, anak Paus yang ambisius itu.
Saat pulang kewilayah Pagan, anak Viesturs tersungkur jatuh secara tiba-tiba, Raja Pagan lari mengangkat anak semata wayang, seketika Viestrus juga tersungkur saat lari menggendong calon penerus tahtanya. Racunnya berfungsi.
Inilah saat-saat yang ditunggu Max, kekosongan jabatan.
Masa-masa sekarat, Viesturs memberikan cincin simbol kekuasaan pada orang yang tak disangka-sangka, orang biasa, yatim piatu, bukan keturunan darah biru apalagi darah daging Raja Pagan, bukan. Namanya Namay.
Waktu cincin itu digenggam Namay, raja menghela nafas terakhir. Siapa sangka, rakyat biasa seperti Namay jadi seorang pemimpin Pagan diamanati raja sebelumnya.
Lelaki kurus yang hobinya berlayar itu menjadi seorang raja tak perlu susah payah kudeta, konspirasi tingkat tinggi juga hoax seperti yang dilakukan elit politik bangsa kita jaman now. Bermimpi pun tidak.
Tapi apa mau dikata, takdir memilihnya menjadi seorang raja yang kekuasaannya sepanjang laut Baltik dan daerah perdagangan Semigallia. Sikap primordialisme Namay sebagai raja Pagan yang baru gigih memperkokoh sikap nasionalisme kaumnya. Itulah sebab ia tak pernah kompromi dengan penjajah, baginya Roma adalah koloni yang harus dilawan. Kebebasan adalah segalanya.
Disaat yang sama, Max kaget atas langkah spontan Viesturs menjelang wafatnya, upayanya memegang kendali gagal. Ia tak pernah menyerah, segala cara dilakukan untuk merebut cincin simbol kekuasaan yang dimiliki Namay. Menyerang didalam, adu domba hingga perang mengerahkan tentara salib ia lakukan.
Satu waktu pertahanan Pagan terdesak diwilayahnya sendiri, saat Max mengerahkan lebih banyak pasukan Roma. Namay dan rakyatnya lari mengungsi ditempat suci kaum Pagan yang mereka sebut sebagai tempat leluhur bersama para Dewa.
Bukan Namay namanya kalau menyerah di ketiak penjajah, ia menyusun strategi disaat sebagian banyak orang penting kaum Pagan menyerah dan memilih ikut Max. Didampingi perempuan terkasih, ia mengobarkan semangat rakyatnya.
Perang kembali tumpah, dengan peralatan terbatas, tentara salib berhasil dikalahkan, Max gugur ditangan Namay.
Konon, Semigallia satu-satunya yang tak bisa direbut oleh kekuasaan Roma dari kaum Pagan. Nasionalisme dan perjuangan Namay patut dijadikan inspirasi.
Cerita ini di ambil dari film fiksi sejarah berjudul "The Pagan King" yang di release tahun 2017 -2018. Disutradarai oleh Aigars Goroba.

Komentar
Posting Komentar